Kertas Putih Kamu bagaikan penulis handal yang mentorehkan tintanya diatas tubuhku. Menuliskan kisah luar biasa yang belum pernah aku rasakan, menikmati setiap goresannya walau tubuh ini kadang terluka memang resiko yang aku ambil sejak awal. Tak terasa tinta pena tersebut akan habis, lalu pergi untuk sesaat. Kamu kembali membawa tinta yang jauh lebih indah dari sebelumnya, bersama sebuah kertas baru yang aku rasa memiliki kualitas yang jauh lebih unggul dariku. Tapi tak apa, aku bersyukur kamu masih menyimpanku didalam rak bukumu. Walau aku tahu kamu sedang menuliskan kisah lain yang jauh lebih indah disana. Aku tetap percaya suatu saat kau akan kembali ketika kamu merasa jenuh. Mengambil kertas usangku. Lalu membaca kembali kisah yang pernah kamu torehkan padaku . . . namun sayang entah kenapa, aku telah menjadi abu.